Rabu, 19 Mei 2010

Sebelum Allah Menjadi Tuhan

Sebelum Allah Menjadi Tuhan


Sebelum Allah Menjadi Tuhan. Ketika semua makhluk belum ada, bumi dan langit belum diciptakan, surga dan neraka belum ada. Kondisi itu oleh kalangan para ahli tasawuf di dikenal dengan sebutan " Alam Sunyi ". Pada kondisi Alam Sunyi tersebutlah Zat berdiri  dengan nur-Nya dan dengan Nur-Nya itu Zat berdiri dengan sendirinya serta dengan Nur-Nya itu Zat terdiri dengan sendirinya, tanpa sebab yang menyebabkannya.

Tahap selanjutnya dari Nur-Nya timbullah sifat Ujud dari Zat yang berarti Ada, Dan mulai saat itu Zat tersebut menjadi ada dengan sifat Ujudnya atau Adanya Zat tersebut dengan sifat ujud-Nya tersebut. Sehingga tanpa sifat ujud itu, Zat hanyalah Zat semata-mata karena belum ada sifat yang menyebabkan adanya. Dengan telah adanya sifat Ujud yang berarti Ada, Ada-Nya Zat itu dimulai dengan terpancarnya Nur dari Zat, sehingga Nur  yang terpancar dari Zat adalah sesuatu yang membuktikan Adanya Zat. Tanpa Nur yang memancar dari Zat, sifat Ujud dari Zat tidak bisa dibuktikan.

Ini merupakan pemahaman yang sangat penting, karena sebagai makhluk, kita tidak diberi hak atau kita tidak diberi kuasa ilmu untuk membicarakan tentang Zat Tuhan. Sebagai makhluk, kita hanya diberi wewenang sebatas kajian tentang Perbuatan Tuhan ( Zat ) saja. Yaitu sesuatu yang sudah diciptakan dan atau dilahirkan oleh Tuhan ( Zat ) atau sesuatu yang sudah ada dan diadakan, sehingga apabila sesuatu itu telah ada, kita bisa dan diberi hak untuk melakukan kajian dan pembahasan sesuai dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki.

Kembali kepada pancaran Nur yang menjadi bukti dari Adanya Zat yang sebelumnya Zat berdiri sendiri dengan Nur-Nya, maka selanjutnya Nur tersebutlah yang melahirkan sifat-sifat dari Zat secara keseluruhan.

Nur yang memancar dari Zat itulah yang kemudian difahami sebagai Nur Muhammad.

Hai ahli kitab, Sesungguhnya Telah datang kepadamu Rasul kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak ( pula yang ) dibiarkannya. Sesungguhnya Telah datang kepadamu Cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan [ * ]. (n QS : 005.  : Al Maa-idah : Ayat : 015 ]

[ * ]  Cahaya Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dan Kitab Maksudnya: Al Quran.

Jabir ibn `Abd Allah r.a. berkata kepada Rasullullah s.a.w: "Wahai Rasullullah, biarkan kedua ibu bapa ku dikorban untuk mu, khabarkan perkara yang pertama Allah jadikan sebelum semua benda." Baginda berkata: "Wahai Jabir, perkara yang pertama yang Allah jadikan ialah cahaya Rasulmu daripada cahaya-Nya, dan cahaya itu tetap seperti itu di dalam Kekuasaan-Nya selama Kehendak-Nya, dan tiada apa, pada masa itu  ( Hr : al-Tilimsani, Qastallani, Zarqani ) `Abd al-Haqq al-Dihlawi mengatkan bahwa hadist ini sahih

Kemudian dari Nur Muhammad terciptalah Lauh, Arasy , Qalam. Qalam kemudian diperintah untuk menulis 'la ilaha illa'Allah Muhammadun Rasulullah' selanjutnya Qalam melanjutkan penulisan penciptaan seperti bumi dan langit, surga dan neraka, malaikat dan iblis serta semua makhluk lainnya termasuk manusia dan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul serta umatnya yang tunduk dan umat yang durhaka sampai hari kiamat kelak yang kemudia dikenal dengan Qadha dan Qadar serta dari Nur Muhammad itu jugalah kemudian tercipta Adam AS.

" Bila Tuhan menjadikan Adam, Dia menurunkan aku dalam dirinya ( Adam ). Dia meletakkan aku dalam Nuh semasa di dalam bahtera dan mencampakkan aku ke dalam api dalam diri Ibrahim. Kemudian meletakkan aku dalam diri yang mulia-mulia dan memasukkan aku ke dalam rahim yang suci sehingga Dia mengeluarkan aku dari kedua ibu-bapa ku. Tiada pun dari mereka yang terkeluar ". ( HR  : Hakim, Ibn Abi `Umar al-`Adani )

Dari pemahaman yang singkat di atas, dapat kita membuat suatu kesimpulan dengan pemahaman bahwa, sebelum Allah menjadi Tuhan, maka yang ada pada saat itu hanyalah Zat semata-mata yang terdiri dengan sendirinya dengan Nur-Nya dan  Allah baru menyatakan dirinya sebagai Tuhan setelah Allah melahirkan sifat-sifatnya melalui Nurnya tersebut. Nur Allah itu kemudian dinyatakan sebagai Nur Muhammad, sehingga melalui Nur Muhammad tersebutlah Allah melahirkan sifat-sifat ketuhanan pada makhluk-Nya.

Selanjutnya melalui postingan yang singkat ini, dapatlah kiranya dipemahaman sedikit lebih tentang tentang konsep pemahaman yang menyatakan bahwa " Zat pada Allah, Sifat Pada Muhammad, Rupa pada Adam dan Rahasia pada Diri Kita " yang sudah dibahas pada kajian – kajian sebelumnya

Insya Allah pada kajian – kajian  selanjutnya, kita akan mencoba membahas tentang " Hakikat Nur Muhammad " dalam kaitanya dengan " Sifat Allah " dan hubungannya dengan " Adam " sebagai " Manusia " yang keberadaannya di dunia ini pada hakikatnya hanyalah untuk melahirkan atau menyatakan " Nur Muhammad " yang merupakan ' Sifat dari Zat Tuhan "  yang bernama Allah SWT.

Sebagai catatan dari postingan ini perlu disampikan bahwa kalimat " Zat berdiri dengan Nur-Nya " bukan difahami dengan kosep " Zat " dan " Nur " yang terpisah. Pemisahan dilakukan hanyalah semata-mata untuk membangun pengertian dan pemahaman tentang Kelahiran Sifat dari Zat. ( Insya Allah Hakikat Zat Allah dan Nur Allah akan dibahas dalam kajian terpisah, karena apabila disatukan dalam kajian ini tentunya tahap-tahapan dasar pemahamannya akan memakan halaman yang cukup panjang dan mohon untuk tidak dipertanyakan dan diperdebatkan dulu )

Terakhir, saya berharap semoga kajian ini bisa menambah konsep pemahaman kita dan sebagai tambahan bahan dalam diskusi pada majelis masing-masing dan jangan lupa, mohonlah kiranya disampaikan salam hormat dari saya kepada para mursyid dan para guru kita dan saya mohonkan juga do'a dan restunya semoga Allah SWT senantiasa merahmati dan meberikan hidayah-Nya kepada kami sekeluarga. Amin [ kajian hakikat tauhid ]

0 comments:

Posting Komentar

 

Ka'bah Night | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id